Mengenal Betara Sakti Dang Hyang Nirartha
Riwayat, ajaran, dan pengaruh pendeta Siwa dari Jawa yang menjadi asas ajaran Yayasan Cahaya Teratai Putih.

Yayasan Cahaya Teratai Putih berasaskan ajaran leluhur Betara Sakti Dang Hyang Nirartha. Beliau juga dikenal dengan nama Dang Hyang Dwijendra dan Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh. Dang Hyang Nirartha adalah pendeta Siwa dari Jawa yang hidup pada abad ke-15 sampai abad ke-16, dan dipandang sebagai salah satu pembaru Hindu Bali yang paling berpengaruh.
Asal-usul dan keluarga
Dang Hyang Nirartha berasal dari Daha (Kediri), Jawa Timur. Ayah beliau adalah Dang Hyang Asmaranatha, dan ibu beliau Ida Sakti Sunyawati. Dalam perjalanannya beliau berkeluarga di beberapa tempat, antara lain Daha, Pasuruan, Blambangan, dan Mas di Bali.
Keturunan beliau menjadi leluhur Brahmana Siwa di Bali, antara lain Kemenuh, Manuaba, Keniten, dan Mas. Karena itu, beliau dihormati sebagai leluhur para pedanda Siwa.
Perjalanan ke Bali
Dari Daha, Dang Hyang Nirartha berpindah ke Pasuruan, lalu ke Blambangan, sebelum menyeberang ke Bali. Kedatangan beliau di Bali umumnya dicatat pada 1489, meskipun ada sumber yang menyebut 1492. Saat itu Bali berada di bawah pemerintahan Dalem Waturenggong dari Kerajaan Gelgel, dan beliau diangkat sebagai bagawanta atau pendeta kerajaan.
Lontar Dwijendra Tattwa mencatat perjalanan suci beliau di Bali, Lombok, dan Sumbawa. Lontar ini menjadi rujukan utama riwayat beliau.
Ajaran beliau
Ajaran Dang Hyang Nirartha berpijak pada Siwa Sidhanta, dengan penekanan pada Tri Purusa, yaitu Paramasiwa, Sadasiwa, dan Siwa. Tiga hal berikut paling dikenal dari ajaran dan pembaruan beliau.
- Padmasana, yaitu bangunan suci berbentuk singgasana kosong untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa.
- Moksa, yaitu kebebasan sejati sebagai tujuan tertinggi kehidupan.
- Kependetaan Siwa, yaitu tatanan pendeta yang masih berperan dalam kehidupan beragama Hindu di Bali.
Hasil dan pengaruh
Selama perjalanan beliau, padmasana ditambahkan pada banyak pura di pesisir Bali, dan kini menjadi bangunan yang lazim dijumpai di pura. Sejumlah pura juga dikaitkan dengan perjalanan beliau, antara lain Tanah Lot, Rambut Siwi, dan Uluwatu.
Pengaruh beliau berlanjut melalui keturunannya. Brahmana Siwa berperan sebagai pengemban dan pembina tatanan keagamaan di Bali, dan ajaran beliau masih dijalankan umat Hindu di berbagai daerah di Indonesia.
Jejak di Lombok
Di Lombok, nama Dang Hyang Nirartha dikaitkan dengan Pura Suranadi di Desa Selat, Kecamatan Narmada, Lombok Barat. Menurut cerita masyarakat, beliau berjalan kaki dari Jawa dan Bali hingga Lombok untuk menyebarkan ajaran Hindu. Di setiap tempat beristirahat beliau menancapkan tongkat, lalu air keluar dari lubangnya. Pura ini memiliki lima mata air sehingga juga disebut Pura Panca Tirta. Upacara tahunan pada purnama Sasih Kapat memperingati jasa beliau.
Akhir perjalanan
Umat Hindu meyakini Dang Hyang Nirartha mencapai moksa di Pura Luhur Uluwatu pada pertengahan abad ke-16. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan ngeluhur.
Yayasan Cahaya Teratai Putih melanjutkan ajaran tersebut melalui meditasi, pelatihan dharma, upacara Homma Jnana, dan pengabdian kepada sesama.
Riwayat ini disusun dari lontar Dwijendra Tattwa dan tulisan tentang sejarah Hindu Bali. Sejumlah rincian, seperti tahun kedatangan dan silsilah keluarga, berbeda antarsumber.