Langsung ke isi
YayasanCahaya Teratai Putih
Masuk Booking konsultasi

Tri Hita Karana: Tiga Penyebab Kesejahteraan

Tri Hita Karana mengajarkan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam, dan menjadi dasar kegiatan yayasan.

Sekretariat Yayasan 1 menit baca
Tri Hita Karana: Tiga Penyebab Kesejahteraan

Tri Hita Karana adalah ajaran Hindu Bali tentang tiga penyebab kesejahteraan. Tri berarti tiga, hita berarti kesejahteraan atau kebahagiaan, dan karana berarti penyebab. Ajaran ini menjadi dasar setiap tindakan Yayasan Cahaya Teratai Putih.

Tiga unsur Tri Hita Karana

  • Parahyangan, yaitu keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan.
  • Pawongan, yaitu keharmonisan hubungan manusia dengan sesama manusia.
  • Palemahan, yaitu keharmonisan hubungan manusia dengan alam dan lingkungan.

Ketiga unsur ini saling berkaitan. Kesejahteraan dipahami sebagai hasil dari hubungan yang seimbang pada ketiganya.

Sejarah istilah

Nilai-nilai ini telah lama hidup dalam tradisi Hindu Bali. Istilah Tri Hita Karana sendiri dipopulerkan pada Konferensi Daerah I Badan Perjuangan Umat Hindu Bali di Perguruan Dwijendra, Denpasar, pada 11 November 1966.

Pada 2012, UNESCO menetapkan lanskap budaya Bali sebagai warisan dunia dengan judul The Cultural Landscape of Bali Province: the Subak System as a Manifestation of the Tri Hita Karana Philosophy. Sistem pengairan sawah subak diakui sebagai perwujudan nyata ajaran ini.

Penerapan dalam kegiatan yayasan

  • Parahyangan: meditasi bersama, upacara Homma Jnana, pelatihan dharma, serta piodalan dan upacara adat.
  • Pawongan: santunan kaum prasejahtera, layanan konseling kemanusiaan, bantuan bencana, dan dapur umum.
  • Palemahan: gotong royong membersihkan lingkungan dan bantuan bibit talas.

Penerapan dalam kehidupan sehari-hari

Tri Hita Karana dapat dijalankan melalui hal yang sederhana: menjaga ibadah, bersikap baik kepada keluarga dan tetangga, serta merawat lingkungan tempat tinggal. Prinsip ini membantu umat menjaga keseimbangan kehidupan spiritual dan sosial di tengah arus modernisasi.